Monday, December 14, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedelapan belas - END

.memori kedelapan belas

Setelah apa yang terjadi, kau yang dulu mungkin akan berpaling dan semudah itu melanjutkan hidupmu lagi, tanpa sedikit pun rasa khawatir atau sesal pada dunia. Dahulu, pusat rotasi duniamu adalah dirimu sendiri, dan kau tidak memiliki sedikit pun peduli pada perubahan yang terjadi. Namun kau bukanlah kau yang kukenal saat masuk SMU dulu.

Itu adalah fakta yang kuyakinkan pada diriku sendiri, sementara telepon dan temu semakin berkurang di antara kita. Kita memang sibuk selama akhir SMU itu, tapi aku tahu kalau malam terakhir itu tidak pernah terjadi, aku dan kau pasti akan mencari sela dalam kesibukan itu.

Sebenarnya sedikit-banyak aku mengerti apa yang kaurasakan. Rasanya bertambah dekat ketika sebentar lagi dipaksa untuk berpisah membuat segalanya lebih menyakitkan. Seperti menyirami sebuah pohon yang akan segera ditebang.




Kau tidak rela mengakui kalau kau tidak mampu melakukan hubungan jarak jauh. Aku juga tidak rela menebak kalau hubungan kita, seperti kebanyakan hubungan jarak jauh, akan kandas di satu titik atau titik yang lain. Kita berdua bisa dibilang kalah sebelum berperang dengan jarak; karena jarak adalah musuh yang paling mengerikan untuk kasih.

Sementara aku dan kau memiliki sesuatu yang mengganjal dalam hati, seisi sekolah lainnya dengan lega melemparkan topi toga mereka ke udara pada upacara pagi hari itu. Tidak sama dengan ketakutan semua guru di sekolah, tidak ada di antara kami yang tidak lulus ujian nasional. Aku tahu banyak dari mereka memiliki kunci jawaban saat ujian itu, namun tidak ada yang cukup bodoh untuk menggunakan kunci palsu, atau lebih-lebih, tertangkap menggunakannya.

Secara natural selepas “Istirahat di tempat!” terakhir yang diserukan Miranda, ketua OSIS angkatan kami, para murid berpencar untuk mencari sahabat-sahabat terbaik mereka. Sebagian besar berfoto-foto, yang lain saling melempar balon air — spray paint dilarang keras — dan lainnya, seperti aku, kau, Aksa, dan Rein, berpisah dari kerumunan. Rein tidak lama di sana; selepas ini dia akan berkumpul dengan teman-teman satu gengnya dari cabang lain untuk foto studio.

Aksa, seperti yang lain, merasa ada sesuatu yang telah terjadi di antara aku dan kau — menebak dengan tepat kalau segalanya berhubungan dengan kenyataan kalau aku tidak pergi ke Perancis. Ya, mereka kini tahu. Kita tidak terlalu banyak membicarakannya, tapi setiap kali mereka membicarakan kepergianmu, aku tahu Rein melirik cemas ke arahku.

“Oke, gue harus pergi dulu,” kata Rein. “Celia dan yang lain nunggu gue. Besok pagi kita ketemu di rumah lo?”

Pertanyaan terakhir itu diarahkan padamu. Kau nyengir dan mengangkat bahu. “Mobilnya dipesan Ben untuk gue jam delapan.”

Rein melirik lagi ke arahku. Tanpa menoleh ke arahnya aku dapat merasakan pandangannya. Aksa tahu kalau aku tahu, dia berusaha membuatku lebih nyaman dengan berkata kalau Rein tidak seharusnya membuat teman-temannya menunggu lebih lama.

“Ouch, iya,” kata Rein melihat jam tangannya. “Tahu nggak, gue nggak bisa telat kali ini. Mereka sering lupa sama gue mentang-mentang kelas gue yang dipindahin ke cabang sini. Yuk, Sa.”
“Lo juga ikut foto studio?” kau bertanya pada Aksa, agak geli.

Aksa mendesah, tapi sebelum ia bisa menyangkal, Rein berkata dengan merangkul lengan Aksa, 

“Nggak ada protes, gue udah nemenin dia ke pameran motherboard tempo hari.” Kau tertawa mendengar itu dan berkata kalau kau pun pernah menemani Aksa ke pameran serupa sebelumnya.

“Tapi lo dateng, kan, besok?” Aksa bertanya padaku sementara kau dan Rein sedang bercanda. Sekitar kami begitu bising hingga Aksa harus mendekatkan tubuhnya padaku. Kau dan Rein tampaknya tidak sadar ketika Aksa mengedikkan kepala pada kalian, berkata lagi, “Yah, lo tahu, foto bareng besok. Sebelum dia pergi. Gue tahu lo dan dia nggak terlalu akur akhir-akhir ini, tapi....”
Sejujurnya sudah beberapa malam aku berpikir kalau mungkin aku tidak perlu datang. Tapi aku berkata, “Jangan khawatir.”

“Bagus,” Aksa tersenyum lembut, tampak tenang, berpikir kalau aku dan kau berpisah dengan hati damai. Kenyataannya jauh dari itu, tapi aku tidak perlu membuatnya khawatir. Aksa berkata lagi, “Novel lo kapan terbit?”

“Dua bulan lagi,” kataku, lega dengan pengalihan pembicaraan. “Semuanya udah lagi tahap editing akhir.”

Aksa tampak puas. Ia kemudian diboyong pergi oleh Rein, dan seperti itu, aku dan kau tinggal berdua di sana, di tengah murid-murid lain yang terasa asing. Aku memang selalu berbeda dengan yang lain, sebagai anak beasiswa yang menjauhkan diri, tapi aku hingga saat itu belum sadar betapa berbedanya juga kau. Mungkin di antara semua perbedaan kita, ini adalah persamaan yang mencolok.

Merasakan hal yang sama, kau berusaha mendekatkan diri dengan murid lain dengan mengatakan sesuatu yang umum. Bagaimana kau akan rindu SMU. Aku berkomentar kalau mungkin kita bisa kembali ke sini sekali-kali untuk memakan kue cubit di depan sekolah kalau kau mau.

“Kue cubit?” kau bertanya, benar-benar tampak bingung.

Saat itulah aku sadar. “Jangan bilang lo nggak pernah jajan di depan sekolah?”

Kau tampak berpikir sejenak, tapi dari air wajahmu aku segera tahu jawabannya.

“Lo pernah paksa gue coba foie gras yang nggak enak itu, sekarang lo harus coba kue cubit kesukaan gue,” kataku menggamit lenganmu.

“Sekarang gue bener-bener ngerasa kita mirip sama Aksa dan Rein,” katamu memutar bola mata, tidak menolak ajakanku, walaupun tampak agak enggan. “Tapi kue cubit itu manis, kan? Gue suka manis. Jadi, nggak apa-apa.”

“Lo bener-bener belom pernah beli, ya? Kita makannya yang setengah mateng. Jadi kuenya ditaruh di atas kertas bekas lalu kita jilat dari sana. Pernah, sekali, gue dapet kertas bekas ulangan kimia tempo hari.”

Di antara kerut keningmu yang kemungkinan besar sedang membayangkan seberapa higienis makan dari kertas ulangan, kau berkomentar dengan puas, “Kertas ulangan kimia emang pantas dibikin jadi tatak kue cubit.”

Awalnya kau tampak enggan memakan kue di atas kertas buram itu, tapi setelah mencoba satu, kau membuat alasan agar kau bisa memakan setengah lusin. Aku membawamu berkeliling pinggiran sekolah, mencoba berbagai macam jajanan yang kau bahkan tidak pernah dengar sebelumnya. 

Favoritku adalah tempe goreng, yang selalu kumakan dengan kuah rendang gratis, tapi kau mengernyitkan dahi dan berkata kalau warnanya terlalu oranye untuk terlihat sebagai rendang betulan. Kau menolak untuk memakannya dengan sekuat tenaga. Aku tetap menyodorkannya padamu, melihatmu makan segigit, mendengarmu berkata dengan tidak jujur, “Nggak enak.”

“Emang cuma gue kasih segigit doang,” kataku, menarik tempe itu kembali ke arahku, lalu menggigit sisanya. Kau menatapku sementara aku memakannya, aku bisa bersumpah aku melihat air liur berkumpul di ujung mulutmu tapi aku tetap pura-pura tidak lihat. Tidak lama kemudian kau berkata, “Gue pesen satu lagi, deh, tempenya. Nggak terlalu enak sih, tapi gue beli supaya lo ngerasa seneng aja kok. Lagian, oranye-nya itu pasti dari kunyit yang banyak. Ya, kan? Gue... em... nggak akan sakit perut kok makan itu.” Lalu kau membeli tiga tempe, lalu tiga lagi.

Aku mengiyakan semuanya sambil sembunyi-sembunyi tertawa. Kadang-kadang kau bisa sangat tidak jujur.

Kuliner jajanan itu lama-lama memakan waktu kita yang semakin menipis, dan ketika sore menjelang, kita sudah terlalu kenyang untuk memakan apapun lagi. Murid-murid lain masih banyak yang berada di sekitar sekolah, karena mereka tampaknya tahu itu adalah hari terakhir mereka dapat menikmati sekolah sebagai murid di sana. Sedangkan aku dan kau, kita tahu itu adalah hari terakhir kita dapat menikmati waktu sebagai... kita. Ketika besok menjelang, semuanya berakhir.

Sentimen itu tampaknya hinggap dan meresap, pelan-pelan mengambil keceriaan yang menyelimuti sepanjang hari. Pada saat itu kita, seperti beberapa murid lain, berada di lapangan sepak bola. Murid lain berbaring di atas rumput, memperhatikan langit yang berubah menjadi kemerahan. Aku mendongak dan mengerti — pemandangan hari itu adalah pemandangan yang tidak akan aku lupakan untuk waktu yang sangat lama. Aku ikut duduk, kemudian berbaring di atas rumput yang terasa lembab.

Kau tampak berpikir sejenak, lalu membuka tasmu, bergerak mengeluarkan sesuatu. Ketika aku tahu apa yang sedang kau lakukan, aku menarikmu pelan, tapi cukup hingga membuatmu terduduk di sampingku.

“Jangan bilang lo mau pake toga lo buat alas di sini,” kataku tidak percaya. “Jangan, dong! Itu kenang-kenangan SMU lo, tahu.”

“Yang nggak bakal dipake lagi,” katamu. “Lo tahu, kan, di sini banyak ulat sama jangkrik? Yang bisa bertelor di kepala lo?”

Aku mengabaikan kata-katamu yang terakhir. “Toga itu kenang-kenangan hari ini.”

Pada itu, kau terdiam. Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku menolak untuk mengakuinya. Aku berbaring, rambutku menyentuh tanah di bawah, dan tidak lama kemudian, kau berbaring di sampingku. Tanpa apapun untuk mengalasimu.

Kau telah menyeleting tasmu kembali, menggenggamnya dengan tanganmu, seakan baru kini kau menyadari betapa pentingnya toga itu. Tanganmu yang lain menggenggam milikku, sementara awan di atas langit dengan perlahan berjalan di atas kita.

Entah karena matahari perlahan-lahan mengubah langit menjadi keunguan, siap untuk tenggelam, entah karena kau yang terdiam sementara hari berakhir, ada setetes air mata yang keluar dari ujung mataku. Kau tidak perlu melihatnya atau mendengarnya untuk tahu.

“Edmund,” kataku. “Apa kita akan tetap sama?”

Aku tahu jawabannya adalah tidak. Satu-satunya hal yang pasti dari manusia adalah perubahan. Berkata kalau kita akan tetap sama adalah kebohongan yang ingin sekali aku percaya saat ini, karena belum pernah aku merasa seutuh ini. Utuh, denganmu.

Kau bertanya padaku, apakah aku akan menunggumu pulang.

“Ya; kalau waktu pulang, lo masih mau gue tunggu.”

Begitulah hari itu berakhir. Memoriku hingga aku mengutarakan kalimat itu begitu jernih, hingga bertahun-tahun kemudian, aku masih ingat bagaimana rasa kue cubit dan tempe rendang yang kumakan hari itu. Aku masih ingat bau rumput tempat aku berbaring sore itu. Tapi setelahnya, segalanya adalah buram. Jika aku pikir lagi lama setelah waktu berlalu, mungkin memori sisanya pudar lebih cepat karena aku enggan untuk mengingatnya.

Aku melihatmu keesokan harinya di rumahmu, diantar kepergiannya oleh aku, Ben, Ditya, Aksa, dan Rein, berfoto bersama, lalu melambai pergi pada mobil yang mengantarmu ke Soekarno-Hatta. Segalanya terjadi begitu cepat dan kabur, hingga ketika aku kembali pada kenyataan yang jernih, aku mendapati mobilmu telah menghilang dari pandanganku.

Yang tersisa dengan jelas dari perpisahan itu adalah sebuah foto polaroid dari kamera Aksa yang dihadiahkan kepadaku. Aku melihat kekosongan dalam raut wajahku di sana. Aku melihat wajahmu, tersenyum pada kamera dengan lesung pipitmu, dan bertanya-tanya apakah satu-satunya cara untuk melihat wajahmu lagi setelah ini adalah dengan menatap ke dalam selembar foto.


Sebelum kusadari, kau telah pergi.


----



Author's Note:
 
Para pembaca mungkin berpikir, walaupun Edmund sudah meninggalkan Indonesia, tapi ini bukan akhir dari kisah Shivara-Edmund kan?

Suatu hari nanti kalau saya melanjutkan naskah ini, mungkin bab yang baru akan dimulai dengan 'beberapa tahun kemudian'. 

Alih-alih 'memori kesembilan belas', mungkin judul babnya adalah 'langkah pertama'. 

Ketika Aku Masih Mengenalmu personal untuk saya. Seperti yang dicerminkan dari bab puisi pembuka memori pertama, saya menulis cerita ini agar saya dapat melepaskan. Dari satu memori ke memori yang lain. Saya tidak bisa menulis bab baru, karena bahkan saya pun tidak tahu akan masa depan Shivara-Edmund.

Novel saya berikutnya, Galette, mungkin akan terbit lebih cepat daripada yang saya kira. Galette memiliki banyak kemiripan dengan kisah ini, terutama karena saya ingin membuat versi dari kisah ini yang tidak personal. 

Galette ditulis tepat setelah saya menulis memori kedelapan belas. Premis utamanya, walaupun begitu, sama sekali berbeda. Mood ceritanya pun begitu. Ketika Aku Masih Mengenalmu lebih mendayu dan melankolis, sementara Galette lebih ceria. Seberapapun penulis ingin menyembunyikan suasana hatinya dari tulisan yang mereka buat, mereka selalu gagal.

Terima kasih sekali lagi untuk mengikuti tulisan saya hingga sejauh ini. Ketika Galette terbit nanti dimohon dukungannya, ya!


Fenny

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...