Thursday, November 12, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketiga belas

Sorry for this is a little overdue. But here it is!

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!




.memori ketiga belas

Semakin jauh seseorang masuk ke dalam pagar duniamu, kau semakin menjaga mereka, menyayangi mereka. Aku bisa mengatakan hal itu, karena aku sendiri kini merasa berada di dalam sana. Dibandingkan sikapmu pada awal kita mengenal satu sama lain, aku merasa ada perubahan besar. Aku menyadarinya suatu pagi segera setelah Elli kembali ke New York.



Kau datang pagi sekali ke sekolah hari itu, jadi kita mendapatkan waktu kosong untuk bercakap-cakap berdua sebelum murid lain datang. Kau terlihat lebih cerah daripada biasanya, cengiran di wajahmu tidak hilang-hilang sementar akau bercanda denganku.

Kau kemudian menyodoriku hasil ujian DELF-ku, beserta beberapa buku. Aku melihat hasilnya dan menghela napas lega karena aku lolos dengan nilai yang cukup baik. Kau tidak tampak terkejut tentang hal itu.

“Jadi karena tes beasiswa lo tinggal dua minggu lagi,” katamu, “gue kasih lo buku-buku ini. Lo inget cowok yang waktu itu pingin makan ketan bakar ke Lembang?”

Aku mengangguk. Aku masih ingat bagaimana tamu itulah yang membuatmu sibuk dan selalu pulang lebih awal segera setelah bel sekolah berbunyi.

“Namanya Stéphane, dia dulu anak pengajar di tempat kursusnya keluarga Ben. Gue ketemu dia waktu gue ujian DELF dulu,” katamu nyengir. “Dia dapet beasiswa kuliah ke Toulouse. Gue minta peninggalan buku-buku berharga dia yang dia bilang kunci sukses tesnya, dan sebagai gantinya dia minta gue jadi supir kuliner dia di Bandung selama dia liburan kemarin.”

Aku menerima buku-buku itu dalam diam. Ketika aku membuka mulutku lagi kemudian, yang keluar adalah kata-kata gagap yang selalu keluar ketika aku grogi atau emosi, “T-tapi k-kenapa....”

Percakapan kami terhenti dengan kedatangan Aksa. Hari itu adalah hari pertama Aksa masuk lagi setelah membolos berhari-hari karena sakit. Ia terlihat lebih pucat daripada biasanya, tapi yang membuat aku sangat khawatir bukan hanya itu. Suasana hati Aksa terlihat sangat buruk.

“Aksa, lo nggak apa?” tanyaku menyapa, tapi Aksa diam saja.

Ketika marah, Ditya yang bertemperamen buruk mungkin akan menyumpah-nyumpah. Kau akan mengernyitkan dahi dan mengatakan sesuatu yang benar-benar menyakitkan hati, dengan nada yang dingin. Ben yang dewasa hanya akan berakhir membuat secangkir kopi yang benar-benar tidak enak diminum. Sedangkan Aksa? Hari itu aku tahu, Aksa yang marah akan diam seribu bahasa.

Hari itu aku berpisah denganmu dan Aksa dengan perasaan yang tidak nyaman. Kau mengajakku bertemu lagi petang itu untuk membicarakan sesuatu yang tadi pagi terpotong. Aku senang dengan semua kejutan itu, dan lebih dari kapanpun merasa diperhatikan olehmu, tapi aku khawatir akan Aksa.

Sekali lihat pada raut wajahmu petang itu, aku sadar kau pun merasakan hal yang sama. Kita belum sempat berbicara apa-apa ketika kau mendapatkan sebuah panggilan telepon. Setelah memutus sambungan itu, kau memijat pelipismu dan berkata padaku, “Kita harus pergi. Ben baru telepon dari Jakarta. Temannya yang kebetulan di Loupin bilang Ditya sama Aksa lagi berantem di sana.”

Ketika kita sampai di sana, Aksa baru saja menerima sebuah pukulan lain yang membuat Aksa terkapar di lapangan parkir. Belum ada terlalu banyak tamu, karena gastrobar itu baru buka lebih larut. Aku membantu Aksa berdiri, sementara kau menahan badan Ditya ke mobil.

“Lepasin gue!” Ditya meraung, berusaha mendorongmu. Ditya yang tanpa pengaruh alkohol dapat melemparmu dengan mudah, tapi saat itu, untuk berdiri tegak pun Ditya kesulitan.

Kau mencengkeram leher kerah Ditya yang berbau alkohol, berseru balik, “Itu Aksa! Adik lo! Lo sekarang masuk ke mobil dan tunggu di dalem.”

Kau mengambil kunci mobil di kantung celana Ditya, membuka kuncinya, dan menyurukkan badan besar Ditya yang goyah ke dalam. Kau membantuku memapah Aksa ke kursi di depan Loupin, dan kita berdua terdiam dalam ketakutan ketika melihat darah mengalir dari hidungnya. Kulitnya sepucat rembulan.

Kau masuk ke dalam mobil Ditya dan menyalakan mesin, tapi sepertinya ada sesuatu yang rusak ketika perkelahian itu mengenai dasbor mobil. Bensin Ditya pun hampir habis.

“Kita harus cari taksi,” katamu berpikir keras.

“Lalu Ditya?”

“Gue masukin ke dalem mobil, gue buka kaca dan gue kunci. Gue udah telepon Pak Daris, dia bakal datang ke sini susulin si mabok itu.” Lalu kau tanpa berkata apa-apa lagi berjalan ke pinggir jalan untuk mencari taksi.

Aku merasa mungkin kita benar-benar diberkati karena segera, ada sebuah taksi yang lewat di depan kita. Setelah mengunci pintu mobil Ditya dengan sebelah tangan, kau menggendong tubuh Aksa yang tidak sadarkan diri ke arah taksi yang menunggu di samping trotoar.

Saat itulah hal itu terjadi. Dari dalam gang di samping Loupin, muncul seorang nenek setengah baya dengan anaknya yang berusaha untuk masuk duluan ke dalam taksi.

“Nek, tapi—” aku berkata, sangat panik.

“Tolong ya Neng, kami duluan, ibu saya ini tiba-tiba tadi sakit sekali perutnya, jadi....”

Permintaan itu tidak sempat direspon olehku, karena kau segera berkata tanpa basa-basi, “Minggir.”

Satu kata itu sudah cukup, karena kau tidak menunggu lagi. Kau melewati mereka dengan paksa, masuk ke dalam taksi. Aku juga segera berlari masuk ke dalam, tapi tidak dengan melihat wajah si nenek dan anaknya yang kesal dan sedih. Daerah itu sulit untuk mencari taksi. Si nenek bahkan tidak bisa berdiri tegak karena memegangi perutnya.

Mungkin karena aku begitu bingung di semua kekacauan itu, yang terjadi selanjutnya tidak jelas di dalam benakku. Taksi yang kami kendarai kemudian menabrak sebuah motor tepat ketika hendak belok ke dalam rumah sakit. Kecelakaan itu cukup untuk membuat motor itu ringsek, karena ia berjalan dalam kecepatan yang cukup tinggi. Si pengendara motor terlempar agak jauh.

Aku hanya memar sedikit karena benturan itu, tapi bentuk mobil taksi itu tidak tampak terselamatkan. Kau segera keluar ketika kau bisa. Aku mendekati si pengendara motor yang kini telah dikerumuni warga sekitar, dan masuk ke ruang UGD bersama supir taksi kami yang tidak tampak terluka.

Setelah dokter jaga membawa masuk si pengendara motor, segala kekagetan baru masuk ke dalam diriku. Aku terduduk di atas kursi dengan pandangan yang menerawang. Apa yang baru saja terjadi? Rasanya baru beberapa jam yang lalu aku menggenggam buku persiapan tes beasiswa darimu.

“Cepet,” katamu, mendorongku ke arah area periksa satu-satunya dokter jaga yang tersisa. 

Pengendara motor yang dipapah masih perlahan-lahan menyusuri koridor. Ia tampak lebih memerlukan periksa daripada aku, tapi kau telah menarikku ke arah dokter jaga dan meninggalkanku di sana. Kau menjauh sebentar untuk melakukan beberapa panggilan telepon.

Aku tidak apa-apa, karena memar itu tidak tampak melukai kepalaku terlalu dalam. Tidak perlu waktu lama hingga aku turun dari ranjang pasien dan duduk kembali di ruangan tunggu. Supir taksi tadi mendekatiku dan mengutarakan betapa ia meminta maaf atas kejadian tadi. Motor itu muncul dengan kecepatan tinggi, lalu menabrak tiba-tiba. Namun bagaimanapun, pria yang mengendarai motor itu memiliki istri dan anak yang kini untuk sementara tidak bisa ia hidupi, karena kakinya patah dan tulang bahunya ada yang retak.

Aku mengerti apa yang supir itu sedang katakan. Ia sendiri juga memiliki istri dan anak, beserta taksi yang ringsek. Ia butuh bantuan. Namun sebelum aku berkata apa-apa, kau mendekat dan duduk di sampingku, berkata pada supir taksi itu, “Ini kartu nama perusahaan keluarga saya. Hubungi saja nomor telepon kantor kami di sini.” Kau memberikan kartu namamu, kemudian tanpa kata-kata lain, kau meninggalkan si supir taksi dan mengantarku keluar.

“Hati-hati,” katamu setelah kita sampai di depan, “Supir gue bakal anter lo pulang. Ditya juga udah di rumah. Orang tuanya bakal sampai sini untuk Aksa sebentar lagi, jadi gue bakal nunggu di sini sampai mereka datang.”

“Gue juga pingin di sini,” kataku kemudian. Aku menelepon Eyang, mengabarkan apa yang terjadi, dan memintanya agar jangan khawatir.

“Lalu, bapak pengendara motornya?” tanya Eyang, setelah menanyakan keadaanku, kau, dan Aksa. “Apa dia nggak apa-apa? Kalau yang patah kakinya, pasti dia butuh tongkat. Eyang ada tongkat yang Eyang nggak pakai, menurut Shiva, itu berguna nggak untuk dia? Kalau berguna, kamu bisa bawakan....”

Aku mengiyakan dan menutup telepon Eyang dalam kesadaran yang setengah. Eyang tidak ada di sini, tapi ia telah menawarkan untuk memberi bapak pengendara motor tongkatnya. Kau yang terlibat di dalam kecelakaan ini tidak bertanya sekali pun tentang itu; kau hanya berkata keluargamu akan menyelesaikan semua masalah keuangannya.

Tiba-tiba saja aku sadar sesuatu, tentang apa artinya berada di dalam pagar duniamu. Sementara kau dan aku berduduk berdampingan, dengan tanganmu menggenggam milikku, pikiranku tidak bisa diggenggam olehmu. Benakku melayang pada ketika nenek itu meminta untuk naik taksi duluan, tapi kau menolaknya mentah-mentah. Pada ketika kau berlari menggendong Aksa ke UGD, mengabaikan para warga yang mengerubungi motor yang terlempar. Pada ketika kau memintaku untuk diperiksa terlebih dahulu, padahal bapak pengendara motor terluka lebih parah.

Kau dingin pada orang yang tidak kau pedulikan, itu adalah dirimu sejak dulu. Aku tahu itu, tapi kenapa sekarang ketika aku telah menjadi berarti bagimu, hal itu kembali terasa ganjil?

Kau memandangku dengan tatapan yang aneh ketika aku mengutarakan hal ini padamu. “Di posisi tadi kalau gue kasih taksinya ke nenek itu, gue nggak tahu seberapa lama kita bisa dapet taksi berikutnya. Gimana kalau Aksa kenapa-napa cuma karena ada seorang nenek usus buntu? Lo juga tahu darah dari hidung Aksa mungkin berarti kepalanya terbentur.”

Wajahmu ketika mengatakan minggir pada nenek itu masih terbayang olehku. Sebelum aku bisa berkata apa-apa lagi, kau berkata, “Tentang motor itu, dia jalan dengan kecepatan tinggi, lampu depan motornya rusak sebagian, dan helm yang dia pakai bukan helm yang seharusnya. Gue bantuin supir taksi itu karena gue kasihan sama si supir. Gue nggak bilang yang naik motor pantes dapetin luka itu, tapi gue nggak simpati sama dia. Jadi kalau antara lo dan dia yang diperiksa dokter jaga duluan, tentu saja gue pilih lo.

 “Gue egois, gue akuin itu. Tapi itu nggak apa-apa kalau bisa ngelindungin orang yang penting buat gue,” katamu, kemudian berdiri, masih dengan kaki yang berjingkat. “Sekarang lo tunggu gue, ya, gue juga mau diperiksa bentar.”

Kau menggulung celana jinsmu, lalu baru saat itu aku sadari pada celanamu ada robekan lumayan besar, hasil dari tancapan potongan kaca mobil. Tusukannya cukup dalam hingga membuatmu mengeluarkan darah yang cukup banyak, jadi tampaknya kau akan memerlukan jahitan. Sedari tadi aku tidak memperhatikannya karena merah darahmu tersembunyikan celana hitam panjangmu. Kini setelah aku menyadarinya, aku melihat tetesan-tetesan darah di lantai sampingku di mana tadi kau duduk untuk sejenak.

Aku memandangmu dengan ngeri tapi kau tidak melihat raut wajahku, karena kini kau sudah berjingkat tenang ke arah ruang periksa.

Ada kesadaran lain yang menghantamku. Kau mendahulukan orang yang kau sayang lebih daripada apapun, bahkan dirimu sendiri. Aku mencari jawaban apakah kau adalah orang yang baik: kau tidak peduli apalagi simpati pada nasib orang yang berada di luar pagar duniamu. Tapi kau berani mengorbankan keselamatanmu sendiri untuk orang-orang yang berada di dalamnya.

Seharusnya aku sudah tahu akan hal itu. Bukankah kau yang waktu itu melindungi Aksa dengan menantang 1-on-1 dengan Guntur, padahal kau tidak bisa bermain basket?

Namun aku terbayang nada suaramu yang datar pada supir taksi itu ketika kau menawarkan uang agar segalanya cepat selesai. Aku berpikir, di dunia ini apa yang benar dan apa yang salah, tapi aku tidak menemukan jawaban yang pasti.

Seperti ketika kemudian Rein datang dengan pipi yang penuh bekas air mata, berkata padaku kalau apa yang baru saja terjadi semuanya adalah salahnya. Aksa meminta Rein untuk putus dari Ditya dan menjadi pacar Aksa. Ditya mabuk ketika mendengar hal itu, dan ketika Aksa datang untuk mengatakan alasannya yang sebenarnya, mereka mulai berkelahi di Loupin.

Rein tidak tahu kenapa tiba-tiba Aksa berubah pikiran. Setelah apa yang terjadi, Rein selalu berpikir kalau Aksa memang tidak menyukainya.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Rein. “Gue harap Aksa nggak apa-apa.”

Tidak lama setelahnya orang tua Aksa datang. Dokter keluar dan berkata MRI menunjukkan kalau kepala Aksa tidak apa-apa. Hanya saja tubuhnya yang lemah dan penyakit maagnya yang parah membuat keadaannya sangat mengkhawatirkan. Ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari hingga pulih. Oom dan Tante Harsaya segera memutuskan untuk memindahkan Aksa segera ke kamar yang paling bagus di rumah sakit itu.

Aku pulang menjelang tengah malam, dan rasanya hari yang penuh dengan drama itu terasa seperti mimpi. Setelahnya aku mengetahui darimu kalau Ditya juga terbaring di rumah penuh dengan luka. Walaupun Ditya adalah salah satu ketua perkumpulan mahasiswa  di kampusnya, catatan kehadirannya yang buruk dan perilakunya yang bengal membuatnya berkali-kali terkait masalah dengan pihak universitas. Mereka bilang jika Ditya membolos pada ujian kali itu, maka Ditya mungkin akan di-DO.

Hal itu tentu saja lumayan serius, tapi Rein lebih memilih untuk menunggui Aksa di kamar pasiennya. Aksa memang tidak apa-apa, tapi Rein menolak untuk pergi. Malam itu ia dan Tante Harsaya tertidur di samping ranjang Aksa.

Rein adalah perempuan yang menolong aku, orang yang tidak dikenalnya, dari dalam lumpur sawah. Dia jelas bukanlah orang yang dingin atau tidak simpatik. Tapi saat ia harus memilih pacar putus-sambungnya selama tiga tahun atau adik pacarnya yang sudah lama tidak bercakap-cakap dengannya, dia memilih yang kedua.


Aku kemudian berpikir arti dari dinginnya sifatmu, dan bertanya-tanya apakah mungkin dalam diri setiap orang, sebenarnya kita juga memiliki sifat seperti itu. Naluri untuk melindungi orang yang paling penting untuk kita, walaupun itu berarti mengabaikan sisanya.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...