Monday, October 26, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesebelas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesebelas

Seluruh anak kelas dua diberi kesempatan untuk berdarmawisata ke Pantai Pangandaran di pertengahan tahun ajaran. Untuk pengecualian, anak-anak yang pernah mendapatkan hukuman setingkat lembar merah tidak diperbolehkan ikut.

Tentu saja tidak terlalu banyak murid yang pernah mendapatkan lembar merah; karena itu adalah termasuk hukuman kedua tertinggi. Kau sayangnya pernah mendapatkan lembar merah, ketika kau dan Ditya mabal dari hukuman perpustakaan ditemani ringtone Power Rangers waktu itu. Kau resmi tidak diperbolehkan untuk ikut ke Pangandaran, tapi tampaknya kau tidak terlalu peduli. Aksa bilang kau akan menggunakan waktu istirahat rumahmu untuk pergi menemani Ben survey gastrobar ke Australia. Kalian bermaksud untuk bekerja sama membuka semacamnya di Bali tahun depan.

Ditya dan Ben (yang lulus jauh sebelum kita) juga tidak pernah mengikuti acara semacam ini karena alasan yang sama. Tapi aku dan Aksa bukan tipe pelanggar peraturan, jadi kami diberikan kesempatan seperti yang lain. Aksa bahkan berkata kalau Rein yang seangkatan dengan kita juga akan ikut.

“Rein?” aku terkejut. “Rein ikut?”

Baru saat itu aku tahu kalau Rein adalah anak seangkatan yang bersekolah di cabang lain sekolah kita. Penerimaan di cabang utama sudah penuh ketika Rein ingin mendaftar saat SD, dan untuk seterusnya ia tetap bersekolah di sana karena ia sudah dekat dengan teman-temannya. Untuk darmawisata itu, kedua cabang akan digabung.

Rein memiliki kelompok teman kecil, hampir mirip dengan kau, Aksa, Ditya, dan Ben. Mungkin karena auranya yang terasa jutek, ia tidak memiliki banyak teman lain. Aksa juga tidak, tapi ia lebih karena ia adalah seorang pemalu. Ben juga tidak memiliki banyak teman lain, kata Aksa, tapi karena Ben terlalu banyak menghabiskan waktu di depan kanvas dan bersama gitar. Sedangkan kau juga sama, kebanyakan karena kau tidak ingin memusingkan dirimu dengan orang lain. Kau berpikir mereka terlalu merepotkan.

Jadi selain Ditya (yang tampaknya dikenal dan mengenal seisi Bandung), tidak ada di antara kami yang ‘gaul’. Aku sendiri sudah susah payah berusaha untuk masuk ke lingkaran pertemanan yang lain setelah apa yang terjadi di antara kau dan aku.

Namun berusaha berteman dengan anak-anak perempuan terbukti lebih sulit. Kebanyakan dari mereka telah memiliki teman dekat yang tidak membuka lowongan untuk orang baru. Dan ketika salah satu dari mereka cukup ramah untuk mengajakku bergabung, aku sadar kalau aku sama sekali tidak bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup mereka. Aku tidak bisa terus-terusan pura-pura tidak mendengar ketika ditanya kapan ulang tahunku yang ketujuh belas dan bagaimana aku berencana untuk merayakannya.

Karena pengalaman itu aku mencoba untuk berteman dengan satu-satunya anak beasiswa lain di kelas dua bernama Ami. Pada awalnya pertemanan kami terasa datar, tapi kurasa kami dapat mengembangkannya pelan-pelan. Tapi suatu hari ketika kami belajar bersama, dia bertanya padaku, “Shi, kamu dekat sama Ed, kan? Kapan-kapan bisa kenalin aku ke dia? Dia itu yang orang tuanya punya chain hotel itu, kan? Pasti enak jadi pacarnya....”

Aku bertanya apakah dia naksir kau atau naksir uangmu. Dia berkata kalau kau sebenarnya cukup oke, dan lesung pipitmu sebenarnya lumayan imut, tapi yang terpenting adalah kau adalah orang kaya. Dia ingin menikahi orang kaya dan hidup mudah. Aku bertanya di mana harga dirinya sebagai seorang perempuan yang terpelajar, dan dia berbalik mengataiku munafik. Kami tidak pernah berbicara lagi setelah itu.

Berbicara tentang anak perempuan, sebagian dari mereka bahkan agak membenciku; kemungkinan besar karena aku mengenal Ditya lebih baik daripada mereka. Hal itu membuatku lelah, mengingat hubunganku dengan si Golden Playboy (oke, sekarang aku sudah mengganti panggilan Raja Setan) tidak lebih dari sekedar lelucon. Maksudku, kami mengejek satu sama lain sepanjang waktunya, kenapa orang berpikir aku berciuman dan berpelukan ketika aku belajar bersama Ditya di Peinture?!

Aku merasa aku mungkin bisa berteman dengan Rein, karena aku sangat bersimpati padanya. Sebagai pacar Ditya, dia pasti menderita penyiksaan batin yang lumayan besar.

Ada sekitar enam jam perjalanan Bandung-Pangandaran dengan bus pariwisata. Walaupun aku ingin sekali menyapa Rein sebelum kami berangkat dan membuktikan apakah tebakanku benar, aku tidak bisa menemukan dirinya. Ada sekitar lima ratus orang murid yang berwisata bersama kali itu; aku menyerah sebelum mencoba. Aku tidak tahu Rein kelas apa atau di bus mana ia duduk. Aku kemudian sadar aku bahkan tidak yakin Rein berminat untuk berteman denganku seperti itu.

Di tengah-tengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk makan dan bermain di sebuah rumah makan di pinggir sawah. Untuk membuat para murid kaya ini merasakan ‘kehidupan rakyat jelata’, kami semua diminta untuk membenamkan kaki telanjang ke dalam lumpur sawah dan bermain berbagai macam permainan yang sudah disiapkan.

Beberapa anak laki-laki tidak ragu-ragu untuk mulai berenang di lumpur dan bermain sepak bola, tapi kebanyakan anak perempuan menjerit jijik ketika kaki mereka direndam di dalam sawah yang terasa hangat. Aku telah ditentukan satu grup dengan anak-anak perempuan IPS yang tidak terlalu kukenal. Mereka telah membicarakan sejijik apa air sumur di WC umum, tempat mereka harus mencuci kaki sebentar lagi. Aku merasa permainan sawah itu akan berakhir dalam lima menit ketika Pak Ludo telah pergi untuk mengecek bus kami.

Tapi aku salah perhitungan, karena permainan ternyata tidak selesai sampai sana, setidaknya untuk diriku. Ada bola sepak yang melayang ke bagian belakang kepalaku dan aku terjatuh tepat di lumpur. Sayup-sayup ketika wajahku masih terbenam di lumpur aku mendengar beberapa anak laki-laki meneriakkan maaf dengan asal lalu kembali bermain. Lalu aku mendengar suara tawa dari anak-anak perempuan IPS yang sekelompok denganku.

Aku begitu malu hingga rasanya aku tidak ingin bangun dari sana. Tiba-tiba saja aku berharap kau ada di sana dan melindungiku, tapi aku sadar pikiran seperti itu sama sekali tidak independen. Aku-lah yang memutuskan untuk menjadi mandiri dan berkuliah keluar negeri, kan? Jadi aku menyangga diriku dan mendorong tubuhku bangkit dari lumpur.

“Udah beres ketawanya?”

Aku mendongak untuk mendapatkan Rein menyodorkan tangan ke arahku, sambil bertanya galak ke arah anak-anak perempuan yang tadi menertawaiku. Mereka sontak terdiam dan pergi, tapi tidak sebelum melemparkan pandangan membunuh ke arah Rein.

Aku menerima tangan Rein dan seketika itu aku sadar kenapa Ditya bertekuk lutut padanya.
Rein berkacak pinggang dan berkata kalau seharusnya anak-anak perempuan itu membantuku bangkit, dan anak-anak laki-laki itu seharusnya tidak bermain seceroboh itu. Rein sendiri sudah bersimbah lumpur, dan jelas padaku saat itu kalau ia dan ketiga teman perempuannya berniat untuk kotor-kotoran dan bermain sepuas hati mereka.

Mereka berempat keren sekali dengan semua lumpur itu, rasanya aku tidak percaya kalau mereka mengajakku untuk bergabung ke dalam grup sepak bola mereka siang itu. Bukan karena mereka menerimaku menjadi bagian dari mereka, tapi lebih karena mereka simpati pada kejadian barusan.

Sorenya setelah kami menyuci semua lumpur dari tubuh kami dan berganti baju, aku sadar baju kelasku yang berwarna merah muda takkan sama lagi seperti dulu. Tapi aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu ketika aku melihat Rein berjalan di pematang sawah di bawah matahari terbenam. Teman-teman kami yang lain sedang menyantap nasi timbel sebelum melanjutkan perjalanan, tapi aku memilih untuk mendekati Rein dan menyapanya.

“Hei,” katanya ringan, lalu menepuk pematang sawah yang kini didudukinya. Aku duduk di sampingnya, menatap matahari terbenam yang sama, ketika dia berkata, “Gue jadi jarang lihat lo akhir-akhir ini. Sibuk ya, di IPA?”

Aku menggeleng dan berkata kalau grup studi sudah berakhir, jadi aku jarang datang ke Peinture. Tapi aku jadi sering sekali bertemu Ben, dan kami sering mengobrol bersama ditemani kopi buatan Fendi di tempat kursus. Rein berkata kalau bagian itu dia tahu; karena Ben sering bercerita tentang itu.

“Tapi, ngomong-ngomong, lo emang nggak deket sama yang lain, ya, di sekolah?” tanya Rein lagi. 

“Gue pikir lo dan Ed...?”

Aku tidak menjawab. Rein menyadari itu dan mengubah arah pembicaraan.

“Kalau sama Aksa? Lo IPA, kan? Aksa juga?”

“Iya, gue IPA. Gue jaga-jaga kalau nggak dapat beasiswa itu, gue mau ikut SMPTN Teknik Kimia,” kataku, lega akan perubahan arah pembicaraan itu. “Gue dan Aksa sekelas. Kita sering satu kelompok, dan mungkin mulai bulan depan gue sama dia bakal ikut olimpiade sains bareng, jadi sering ketemu. Dia nggak banyak main sama orang lain juga, jadi kalau di kelas kita masih sering ngobrol.”

“Ooh,” kata Rein mengangguk. “Tapi dia nggak ikut ke Pangandaran? Terlalu cupu buat dia?”

“Bukan sama sekali,” kataku menggeleng. “Dia malah bilang dia nggak sabar ketemu lo di sini. Tapi dia sakit, lagi, seperti biasa, jadinya nggak datang.”

Rein memainkan jemarinya, terlihat agak khawatir. “Dia emang sering sakit, deh.”

“Tapi biasanya cuma beberapa hari terus sembuh lagi. Nggak pernah terlalu parah, kok,” kataku mencoba menghibur, tapi kemudian kalimat itu terdengar salah.

Rein tidak terlalu memperhatikan komentarku yang tidak simpatik itu. “Dari dulu dia sering sakit. Dulu, waktu gue masih suka sama dia, gue sering bawain dia bubur kalau dia lagi kayak gitu. Tapi karena gue sama sekali nggak bisa masak, kebanyakan Vivi yang buatin, gue cuma nimbangin bahan ato apa yang nggak terlalu penting. Dia suka banget sama cakue, padahal itu digoreng... walau gue nggak bisa bikin adonannya, tapi gue jago goreng cakue.”

 Aku agak kehilangan kata-kata. Rein berkata ‘Dulu, waktu gue masih suka sama dia’, tapi melihat ekspresi di wajahnya, aku tidak bisa tidak berpikir apa benar itu hanya dulu. Aku tidak sanggup bertanya.

“Walau kita udah nggak pernah ngobrol lagi, bisa dibilang kita masih temen sekarang,” kata Rein lagi. “Dan kata orang, kalau lo bertemen sama cinta lama, itu artinya cuma dua: lo nggak pernah bener-bener cinta sama dia, atau lo malah masih cinta sama dia. Aksa nggak pernah bener-bener cinta sama gue, makanya dia kasih gue ke Ditya, si bego itu.”

Rein tersenyum tipis di akhir kalimatnya ketika dia mengatakan nama Ditya, menunjukkan perasaannya saat ini pada Ditya. Aku pikir aku bisa menghela napas lega, tapi kemudian Rein termenung lagi melihat matahari.

Hanya beberapa detik kemudian Rein tampak kembali menjadi dirinya sendiri dan bertanya padaku, “Jadi, gimana rasanya main di lumpur sawah, sementara ada kerbau yang BAB di lumpur yang sama, nggak jauh dari lo berdiri?”

Lalu kami melupakan segalanya dan tertawa, dan saat itulah aku resmi mendapatkan teman perempuan pertama.

Ketika matahari benar-benar terbenam hari itu aku dan Rein berjalan di pematang menuju ke bus. Murid-murid lain sudah mulai bersiap-siap untuk berangkat lagi, melanjutkan perjalanan pendek yang tersisa hingga kami sampai di Pangandaran.

Di tengah kegelapan sawah itu aku terseok dan terpeleset dari pematang. Rein menangkap tanganku, dan aku berhasil menjaga keseimbangan tubuhku, tapi bagian bawah betisku tergores bagian tajam bajak sawah.

Tidak butuh waktu lama hingga aku tahu wisataku telah berakhir. Aku tidak pernah mencapai Pangandaran dan segera dilarikan ke klinik terdekat. Pak Ludo pucat sekali ketika dia tahu aku harus segera dibawa kembali ke Bandung, dan lukaku harus segera dibersihkan dan diobati dengan menyeluruh. Jika lukanya dibiarkan seperti itu, ada resiko inflamasi atau tetanus.

Sementara aku dibawa oleh sebuah mobil kecil kembali ke Bandung, aku menenangkan Pak Ludo yang dengan khawatir menyetir di sampingku. Eyang akan dihubungi sesampainya aku di Bandung, dan aku benci sekali ketika tahu aku akan membuatnya khawatir.

Tapi itu tetap harus dilakukan. Setelah lukaku dibersihkan dan diperban, Pak Ludo memintaku menelepon Eyang. “Eyangmu tidak usah kemari, sudah malam, jadi Bapak akan mengantar kamu pulang,” kata Pak Ludo, tidak mengurangi keenggananku untuk memberi tahu Eyang tentang kecelakaan kecil ini.

Aku sedang menekan angka pada telepon rumah sakit ketika aku mendengar namaku dipanggil dari belakang. Aku tahu Pak Ludo sama terkejutnya denganku ketika melihat wajahmu muncul di sana.

“Lo nggak apa-apa?” tanyamu, terengah. “Gue denger dari Rein kaki lo ampir diamputasi.”

 “B-bukan,” kataku, tidak sanggup berkata kalau diamputasi benar-benar berlebihan. Aku benci dengan kegagapanku. “L-lagipula kenapa lo ada di sini? Katanya lo dan Ben ke Melbourne?”

Pak Ludo menatapku dan kau bergantian, sebelum berkata padaku kalau ia akan menungguku di parkiran. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, karena sejujurnya setelah aku memberikan dompet tanda terima kasih itu padamu, aku tidak pernah benar-benar berbicara lagi denganmu.

“Kenapa lo nggak kasih tahu gue ada kecelakaan kayak gini? Bukannya kita tetep temenan?” tanyamu, lalu melanjutkan dengan perlahan, “Gue dan Ben dapat telepon dari Rein, jadi gue pulang sementara Ben tetep—”

“Temenan?”

 “Ya, temen,” katamu, masih tidak bergerak dari tempatmu berdiri, lima langkah dariku, seakan jarak itu dapat membenarkan kata-katamu. Kau menyeka keringat pada dahimu, dan berkata, “Gue kan ngomong waktu itu, kita temen.”

Tapi apakah benar aku dan kamu berteman?


Jika itu benar, apakah itu berarti kita memang tidak pernah saling mencintai,... atau malah masih saling mencintai?

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...