Monday, October 19, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesepuluh

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesepuluh

Hari itu setelah mengantar kepergian Vivi, Ben mengantarku pulang ke rumah. Keesokan paginya, aku datang ke sekolah jauh sebelum bel berbunyi. Aku tidak bisa tidur. Kau duduk di kursiku, menungguku datang. Itu adalah untuk pertama kalinya kau masuk sekolah sejak kelas dua. Kau sedang menungguku.

Aku merasa deja vu, tapi kali itu kau tidak berada di sana untuk membaca binderku. Kau datang untuk mengatakan sesuatu, yang tampaknya juga dengan sulit kau ungkapkan secara gamblang.

“Denger,” katamu. “Soal Vivi dan gue... kita berdua udah kenal lama.”

Ada sesuatu dalam diri Vivi yang membuatmu ingin melindunginya; walaupun umurnya lebih dewasa. Mungkin karena Vivi adalah perempuan paling lembut yang kau tahu. Kau ingin melindungi dan mengayomi, itu adalah nalurimu. Kau ingin dia hanya ada untukmu, itu adalah egomu.


Vivi memenuhi segala tuntutanmu atas seorang perempuan... kecuali satu. Dia adalah perempuan yang memiliki impian tinggi. Ketika kau hanya ingin dia di sampingmu selalu, menjalani hari-hari yang sederhana bersama, dia memilih untuk mengejar karirnya ke Eropa. Ketika kau hanya ingin menikahi seorang ibu rumah tangga di masa depan, dia bercita-cita agar namanya dikenal orang di seluruh penjuru dunia.

Maka pada saat itulah kalian mengakhirinya, karena jalan yang ingin kalian tempuh sangat berbeda. Atau, kau berkata, mungkin segalanya berakhir karena Vivi tidak pernah benar-benar mencintainya. Kau tidak pernah tahu. Yang jelas, segalanya sudah berakhir.

Lalu di tengah kebingunganku kau berkata padaku, “Lalu setelah dia ninggalin gue di sini... gue ketemu lo. Gue suka dengan hari-hari kita yang sederhana. Waktu ketika gue bisa baca tulisan lo. Waktu kita berantem tentang pelajaran nggak penting. Waktu ketika banyak masalah sehari-hari yang kita lewatin barengan. Tapi gue ingin jalan pelan sama lo, nggak mau terburu-buru.”

Kau mendekat dan menyentuh lenganku, dengan cara yang tidak pernah kaulakukan sebelumnya. “Gue pikir karena latar belakang keluarga lo, lo nggak akan pergi jauh kayak Vivi, tapi gue salah. Gue dukung lo, kok, untuk pergi jauh dengan beasiswa, tapi,... itu berarti kita jadi temen aja, ya. Gue nggak yakin mau ngulang apa yang terjadi antara gue dan Vivi lagi.”

Kau menarik tanganmu, dan sentuhan itu di lenganku pun pudar.

Untuk pertama kalinya aku tidak bisa menjawab satu soal pun dalam kuis dadakan Matematika yang kemudian aku ikuti. Pikiranku tidak bisa berhenti dalam satu hal: apakah perempuan yang memiliki impian tinggi adalah hal yang tabu? Apakah laki-laki hanya menyukai ketika perempuan mengikutinya ke mana pun mereka pergi, tanpa mempertanyakan apa pun?

Kenapa dalam era modern ini, berkuliah tinggi keluar negeri menjadi halangan untuk perempuan mendapatkan cinta mereka?

Aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikan kenyataan kalau aku kursus bahasa Perancis pada Eyang. Pada kali ketiga kursus, semua murid ditanyakan apakah mereka berminat untuk mengikuti tes beasiswa yang akan diadakan setengah tahun mendatang. Sepulang dari kursus itu, aku memberi tahu Eyang tentang rencana kuliahku. Eyang yang mendengarnya benar-benar gembira.

Saat itu kegembiraan Eyang tidak aneh bagiku, karena sedari dulu Eyang adalah orang yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, tidak seperti keluargamu yang berasal dari latar belakang pedagang. Tapi hanya setelah aku mendengar penuturanmu di pagi hari, aku bertanya pada Eyang sebuah pertanyaan yang tidak pernah terpikir sebelumnya.

 “Kenapa Eyang seneng waktu Shiva bilang mau kursus supaya dapat beasiswa ke Perancis?” tanyaku.

“Kenapa kamu pikir Eyang akan sedih kalau kamu pergi ke Perancis?”

“Shiva akan jadi jauh, dan mungkin Shiva akan jarang pulang karena tiket pesawat mahal. Shiva nggak akan bisa jagain Eyang kalau Eyang batuk seperti biasa. Shiva juga nggak bisa panggilin Pak Gianyar sore-sore di rumah sebelah, ngajak dia datang untuk main catur sama Eyang.”

“Nggak apa-apa, kok. Eyang seneng-seneng aja. Lagipula kamu kan pergi untuk kuliah saja, setelah itu kamu kembali. Begitu kan, kamu bilang kemarin? Bagi Eyang empat tahun nggak lama kalau kamu bener-bener dapet ilmu berharga.”

Kenyataan kalau Eyang tidak menolak kepergianku sama sekali tidak masuk akal untukku. Eyang hanya sendiri tanpaku, dan walaupun hanya untuk sekitar empat tahun, bayangan kalau ia sebenarnya senang ketika aku tidak ada membuat aku bingung.

“Tentu saja Eyang senang kalau kamu dapat beasiswa!” kata Eyang. “Kamu masih muda. Kalau dapat kesempatan belajar di luar negeri, kamu harus pergi. Kamu harus lihat dunia, belajar yang banyak, supaya sebagai wanita kamu nantinya nggak bakal diinjak-injak pria. Ibu kamu juga lulusan universitas negeri terkenal di Indonesia, dan dia lulus dengan nilai yang bagus.”

Eyang tersenyum jahil dan menyentil hidungku. “Atau mungkin kamu yang akan kangen Eyang, yaaaa?”

Aku mengiyakan dalam bisikan sambil memeluk Eyang, pertama kalinya sejak lama sekali. Aku selalu gengsi melakukannya, tapi aku merasakan luapan perasaan yang begitu menjadi-jadi. Kamu masih punya Ditya, Aksa, dan Ben jika aku pergi, tapi Eyang hanya punya aku. Namun Eyang bahagia kalau aku bahagia; dan dia bersedia untuk menyembunyikan kesepiannya demi masa depanku.

Saat itulah aku memutuskan untuk belajar dengan giat di sekolah maupun di tempat kursus, agar aku benar-benar mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Eyang mengharapkan banyak dariku, dan aku memutuskan untuk tidak membuatnya kecewa.

Walaupun itu berarti aku takkan mendapatkan kesempatan untuk memilikimu.

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Dibanding membiarkan benakku melayang ke Peinture, tempat di mana aku biasa menghabiskan setiap akhir pekanku selama hampir satu tahun yang lalu, aku memutuskan untuk pergi ke mall terdekat. Setengah dari uang hadiah perlombaan novel kupakai untuk membeli berbagai jenis buah kesukaan Eyang, beserta sebotol vitamin untuknya yang sudah lama habis tapi tidak mampu kami beli lagi.

Sisanya aku gunakan untuk membelikanmu sebuah jam tangan sederhana. Sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan yang sedang kaupakai, tapi warnanya marun tua dengan kilat hitam, seperti warna mobilmu, yang kutahu adalah warna kesukaanmu.


Sepulang dari berbelanja, aku menyimpan jam tangan itu di laciku. Entah kapan aku bisa benar-benar memberikannya padamu. 

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...