Monday, October 12, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesembilan

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesembilan

Aku terbangun dua minggu setelah aku naik ke kelas dua SMU dengan Pak Gianyar yang datang ke rumahku dengan terburu-buru. Eyang sedang duduk di teras depan dengan papan caturnya ketika Pak Gianyar datang. Ada selembar koran baru terbit yang diggenggam Pak Gianyar erat-erat, wajahnya menyimpan berjuta rasa yang siap meledak kapan saja.

Pak Gianyar memperlihatkan sebuah kolom pada Eyang, yang membuat Eyang melamun. Pak Gianyar menepuk pundak Eyang sambil menyerukan kata selamat, barulah Eyang berjingkrak-jingkrak dan memelukku.

Aku kemudian tahu ada kolom kecil di halaman tiga belas yang berisi sebuah pengumuman. Aku telah memenangkan juara favorit dalam lomba novel yang tidak aku ikuti. Walaupun yang mendapatkan kontrak penerbitan hanya juara satu sampai tiga, aku mendapatkan hadiah hiburan senilai uang seharga Rp. 500.000,00.

Aku berdiri di sana pagi itu, menggenggam mug dengan air hangat, membiarkan Eyang memelukku. Eyang kemudian menari-nari sambil menyanyi lagu keraton tempo dulu — yang diselingi gaya disko absurd dari tahun 60-an —sementara Pak Gianyar sibuk menanyaiku segala hal tentang naskah itu, “Kok, Bapak nggak tahu kamu nulis? Kapan kamu kirimnya? Kamu pasti berbakat sekali jadi bisa menang! Hebat, padahal kamu masih SMU, ya, Shi!”

Semua pertanyaan itu kuiyakan dengan setengah sadar. Aku juga berterima kasih dengan setengah sadar. Sejujurnya, aku sama sekali tidak ingat kemudian bagaimana aku bisa sampai di sekolah pagi itu.

Di kelas dua aku kembali berada dalam satu kelas dengan Aksa. Kau absen dari hari pertama mulai sekolah. Aksa berkata kalau orangtuamu pada akhirnya mendapatkan libur di saat yang bersamaan dan mereka menggunakannya untuk mengunjungi kakak perempuanmu yang tinggal di New York.

Pernyataan kalau kau ternyata punya kakak perempuan, apalagi yang tinggal di New York, tidak terlalu mengejutkanku pagi itu seperti yang seharusnya. Aksa tampaknya menyadari hal itu, dan dalam jam pelajaran kosong itu ia duduk di sampingku dan bertanya, “Oke, ada apa?”

Aku mengeluarkan koran yang kubawa tanpa sadar dari rumah dan menunjukkan kolom pengumuman itu. Di luar dugaanku, Aksa sama sekali tidak terkejut.

“Inget gue ajak lo ke Bali sama yang lain?” tanya Aksa. “Apa lo nggak pernah bertanya-tanya kenapa Ed nggak ikut?”

Aku tercenung mendengar itu. “Jangan bilang....”

Aksa mengangguk, lalu menunjuk kolom itu sambil berkata, “Dia ngetik naskah lo dan ngirimin ke panitia lomba. Tapi beneran, lo nggak tahu? Gue kira, lo bilang semacam kayak, ‘Gue bakal maafin lo kalau lo bisa selesai ketik naskah ini ke komputer dalam seminggu’.”

“Oke, Aksa, gue bukan masokis,” kataku. “Tapi, dia ngelakuin itu buat gue? Ngetik naskah gue, dan jadinya nggak ke Bali sama kalian? Dia rela ngelakuin itu buat gue?”

“Sejujurnya dia lebih suka Hawaii atau Maldives daripada Bali, jadi....”

Aku berpura-pura tidak mendengar kalimat terakhir Aksa. Ada seekor kupu-kupu yang tiba-tiba aktif di dalam perutku ketika aku berpikir, kalau kau rela melepaskan liburan bersama Vivi dan memilih untuk mengetikkan naskah novelku!

Aku sangat menyesal dengan perlakuanku padamu kali terakhir kita bertemu, dan bersedia melupakan ‘Lo cuma seorang Shiva’-mu. Tiba-tiba saja aku ingin bertemu denganmu. “Kapan Ed pulang?” tanyaku pada Aksa.

“Lusa sore,” kata Aksa. Lalu ia tampak teringat sesuatu. “Oh iya, gara-gara Ed tiba-tiba ke Amrik, gue jadi lupa. Lusa kita semua mau ke rumah Ben sekitar jam 6, lo mau ikut? Vivi mau ke Jakarta, mau balik ke Paris. Yang lain suruh gue ajak lo, karena gue paling sering ketemu lo sekarang.”

Melihat wajahku yang ragu-ragu, Aksa menambahkan lagi dengan pengertian, “Kalau lo nggak pingin, nggak apa-apa kok. Tapi pasti lebih bikin tenang kalau lo ngelihat sendiri, Ed sama Vivi sekarang emang nggak ada apa-apa, kan? Sekalian lo bisa ketemu Ed lebih cepet.”

Kenapa aku tidak pernah bisa menyangkal atau mengoreksi Aksa, seperti yang kulakukan pada semua orang lain? Mengoreksi dengan pernyataan kalau aku dan kau tidak memiliki hubungan atau perasaan seperti itu?

Apa karena yang Aksa katakan memang selalu benar?

Dua hari kemudian aku menghabiskan seisi sore dengan duduk tidak tenang di atas sofa ruang tamu. Eyang lagi-lagi sedang bermain catur di teras, sesekali bertanya apakah aku akan pergi berkencan, lalu bersiul-siul usil. Ia menyebutkan namamu dan Ben, dan menyanyikan lagu ‘Di Antara Dua Pilihan’ yang mungkin adalah gubahannya sendiri. Aku mengabaikan Eyang; tapi mungkin memang benar aku kini memiliki dua pilihan: pergi dan berhenti dihantui seorang Vivi yang sama sekali tidak kukenal, atau tidak pergi dan menyesal.

Tentu saja pada akhirnya aku pergi. Angkutan yang kukendarai berhenti di depan sebuah kompleks perumahan di daerah Utara, lalu aku berjalan kaki mencari nomor rumah yang diberikan Aksa. Aku merasa seperti Cinderella yang baru masuk ke lingkungan kerajaan. Atau lagi-lagi, rakyat jelata yang baru saja urbanisasi.

 Aku melihat mobil keluarga Aksa lewat, dan tampaknya yang berada di dalamnya juga menyadari keberadaanku. Mobil itu segera berhenti, diikuti Ditya yang keluar dari pintu penumpang. Aksa yang belakangan keluar melihatku dan melambaikan tangan.

“Hoi, Putri Beku,” sapa Ditya sebelum kemudian mengacak rambutku sekuat tenaga. Walaupun kini predikatnya telah berubah menjadi anak kuliahan, aku merasa Ditya sama sekali tidak tumbuh dewasa. Untuk pertama kalinya aku bersyukur atas itu, karena kelitiknya, ejekannya, dan candaannya mengalihkan perhatianku dari apa yang akan aku hadapi.

Aksa berusaha melerai kami, dan ia berhasil ketika Ditya sudah puas tertawa. “Baik,” kata Aksa mendesah lelah. “Bisa kita semua masuk ke mobil lagi? Kecuali kita semua mau jalan ke sana. Rumah Ben masih agak jauh di atas.”

“Aksa! Lo harus olahraga, gue serius! Ini nggak jauh, oke?” kata Ditya mendengus, lalu berbisik padaku menambahkan kalau walaupun mereka tinggal satu kompleks, Aksa selalu mengunjungi rumah Ben atau rumahmu dengan mobil. Ditya tertawa dan berkata lagi, “Makanya dia lemah gitu. Ya, dia sering sakit juga, sih. Tapi ngomong-ngomong, rasanya gue belum pernah bener-bener kenalin Rein ke elo, ya? Entar ingetin gue, bakalan gue kenalin. Resmi!”

Rumah Ben memang berada di ujung, didirikan pada tanah yang tidak rata. Undakan-undakan tanahnya itulah yang mungkin mempengaruhi arsitektur rumah yang memiliki enam tingkat tidak beraturan itu. Tapi dibanding tampak abstrak, rumah itu tampak seperti instalasi seni. Aku dapat membayangkan keluarga seperti apa yang tinggal di dalamnya. Bagaimanapun, Ben adalah penemu Peinture.

Ada sebuah van kecil yang terparkir di depan, dengan bagasi yang terbuka. Rein tampak sibuk memindahkan barang-barang ke dalam, sementara Ben baru muncul kini dengan kardus di tangannya. Ada seorang pembantu rumah tangga yang membantu membawa koper lain di belakangnya.

Kami turun dari mobil, membuat Rein dan Ben seketika berhenti. Mereka menyapa kami, dan aku ditarik Ditya untuk dikenalkan pada Rein. Kami beberapa kali bertemu di Peinture, hanya tidak pernah benar-benar berbicara satu sama lain terlalu banyak.

“Soalnya yang satu nyonya jutek,” kata Ditya mengedikkan kepala ke arah Rein, “Dan yang lain Putri Beku. Kalau gue, si ganteng nan ramah dan banyak temen ini nggak ngenalin kayak gini, gue yakin sampe kapan pun lo berdua cuma bakal ketemu tapi nggak pernah temenan. Gue emang berjasa, gue sampe terharu.”

Rein memukul kepala Ditya keras-keras dengan sebuah bantalan leher yang sedang diggenggamnya. “Sori ya, maafin, dia emang rada-rada korslet otaknya.”

Sepasang kekasih itu kemudian saling mengejek dan bercanda, dan Rein memukul Ditya beberapa kali lagi dengan bantal itu, hingga Aksa lewat dekat kami membawakan barang Vivi ke mobil. Rein terdiam dan tampak teralihkan perhatiannya. Ben juga kini mendekat, lalu mengatakan beberapa hal pada Rein.

Dari tempat aku berdiri, aku memperhatikan Ben dan Rein yang kemudian berdiri berdampingan. Melihat kemiripan mereka — tubuh yang lebih tinggi daripada kebanyakan, kulit yang putih, dan rambut yang agak kecokelatan — aku dapat membayangkan mungkin Vivi juga serupa.

Vivi yang sebenarnya keluar hanya beberapa menit kemudian, membawa sebuah laptop di tangannya. Dia menyapa semua orang dengan mengecup kanan-kiri ala Perancis, lalu berhenti padaku.
Aku kemudian tahu dia memiliki sifat Ben ketika ia berkata, “Kata Ben lo kursus di tempat kami, ya. Kenalkan, gue Vivi.... Enchant√©.”

Vivi memang mirip dengan kedua saudaranya. Potongan wajahnya mirip sekali dengan milik Rein, tapi milik Vivi lebih lembut, tanpa tulang pipi yang setinggi Rein. Ada aura cool yang menguar dari dirinya tanpa harus melakukan apa-apa, dan untuk bagian itu, ia sangat mirip dengan Ben. Pakaiannya sangat modis, hingga walaupun aku telah berusaha tampil sebaik mungkin untuk sore itu, aku tetap merasa kecil.

Aku tampaknya hilang sesaat ke dalam pikiranku karena aku tidak menyadari mendekatnya suara mobilmu. Hal yang kemudian aku tahu, kau turun dari mobil, lalu mengecup Vivi kanan-kiri seperti yang lain. Kau menyadari aku di sana, tapi kau hanya sekedar melempar pandang.

“Jadi kapan lo bakal pulang lagi, ma dessinatrice?”

“Mungkin tahun depan,” kata Vivi. “Ada sepupu-sepupu gue di sana, jadinya gue betah. Lo masih nggak bakal kontak gue?”

“Nggak. Lebih gampang kayak gitu,” katamu menggeleng, tapi tersenyum. “Jadi, kita ketemu lagi tahun depan.”

  Lalu kalian melanjutkan percakapan dalam bahasa Perancis. Kelas intensif setiap malam membuatku mengerti apa yang kalian katakan, walaupun tidak sepenuhnya. Kau berkata kalau seharusnya Vivi tidak pergi ke Perancis untuk belajar fashion design. Seharusnya ia menyetujui untuk menjadi ibu rumah tangga tanpa ambisi saja. Kalau Vivi tidak pergi, kau tidak mungkin bersamaku sekarang seperti ini. Kau bertanya apa Vivi menyesal kini?

Kau mengatakan segalanya dengan bercanda ringan. Vivi menegurmu dan berkata kalau itu sudah masa lalu, lalu beralih padaku dan menenangkanku dalam bahasa Perancis. Vivi bilang kalian berdua sudah berakhir, jadi aku tidak perlu khawatir. Aku melihat wajahmu membeku.

“Vivi, Shiva tidak bicara bahasa Perancis,” katamu pada Vivi, masih dalam bahasa Perancis.

“Oh, tapi Shiva kursus di tempat Ben, jadi kupikir...,” Vivi meminta maaf. 

“Kau apa?”

“Shiva kursus untuk dapetin beasiswa kuliah,” kata Vivi, tampaknya sama sekali tidak mengerti dampak dari perkataannya. “Dia emang pinter, ya? Kalau nggak, Ben nggak mungkin kasih tunjangan sampai digratisin.”

Aksa yang berdiri di dekat kami dan mendengar menyelamatkanku. “Vi, nanti lo telat ngejar pesawat.”

Vivi mendongak menatap Aksa, kemudian mengangguk pelan tanpa suara. Dia memanjat masuk ke dalam mobil, dan Ditya membantu untuk menutupkan pintunya. Vivi membuka kaca jendela mobil dan melambai pada kami semua dengan senyum lebar. Dia lalu meraih tanganmu, menarik perhatianmu dari percakapan yang baru saja berlangsung. Vivi membisikkan sesuatu dalam bahasa Perancis, sebelum kemudian mobil melaju.


Aku menolak untuk membalas tatapanmu yang lurus ke arahku, walaupun mobil Vivi tengah menjauh. Tangan Vivi terlihat, melambai sepanjang waktunya, hingga pada akhirnya ia menghilang di sebuah tikungan.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...